Mengenal Densus 88 Anti Teror (AT ) Polri

Juli 24, 2009

Para perwira yang datang silih berganti ke pos pengendalian krisis di Hotel Ritz Carlton, tidak nampak seperti polisi pada umumnya. Badannya tidak kekar, tidak tegap, dan rambut tidak berpotongan cepak. Saat hilir mudik ke lokasi, mereka biasa mengenakan topi dan kacamata hitam. Ciri mereka dikenali dari pin lambang wajah burung hantu di kerah kiri.


Struktur organisasi

Densus 88 AT Polri memiliki empat pilar pendukung operasional setingkat subdetasemen (subden) . Yakni subden intelijen, subden penindakan, subden investigasi, dan subden perbantuan. Dibawah subden terdapat unit-unit yang menjadi fondasi pendukung operasi Densus 88 AT Polri.

Misalnya di subden intelijen terdapat unit analisis, deteksi dan unit kontra intelijen. Pada subden penindakan ada unit negosiasi, pendahulu, onit penetrasi dan unit jihandak. Sedangkan subden investigasi membawahi unit olah TKP, unit riksa dan unit bantuan teknis. Kemudian di subden bantuan terdapat unit bantuan operasional dan unit bantuan administrasi.

Dukungan persenjataan dan peralatan pendukung, termasuk peralatan canggih, sebut saja misalkan diantaranya senapan serbu jenis Colt M4 5,56 mm dan yang terbaru jenis Steyr-AUG. Densus 88 AT Polri juga bekerjasama dengan operator telepon seluler dan internet untuk mendeteksi setiap pergerakan kelompok terorisme dalam berkomunikasi.


Burung hantu yang tak pernah tidur

Namun diluar kehebatan dan kepiawaian Densus 88, mereka mempunyai beban yang sangat berat. Terutama yang bergerak dibawah tanah sebagai tim intelijen maupun tim kontra intelijen. Tugasnya tak kenal waktu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, kata salah seorang sesepuh Densus 88 yang sudah purna tugas. Dalam setiap penugasan, anggota unit intelijen Densus 88 bisa menjadi apasaja. Mereka juga mempunyai berbagai identitas palsu untuk kepentingan penyidikan.

Saat menggulung komplotan Wahyu dan kawan-kawan di Plumpang, 21 Oktober 2008. tim menyamar sebagai penjual air mentah selama berhari-hari, sebagian lain menyamar sebagai tukang pengangkut sampah dan ojek. Pada 22 Maret 2007, Densus 88 AT Polri membongkar jaringan persenjataan dan bom terbesar sejak 30 tahun terakhir di kawasan Sleman, Jogjakarta.


Handphone siaga 24 jam

Anggota Densus 88 AT Mabes Polri yang beroperasi dilapangan diberi privilege tidak perlu apel rutin sebagaimana polisi lain, tapi handphone tak boleh mati ( siaga 24 jam ). “Jika mati , pasti ditegur sangat keras oleh pimpinan” lanjut sesepuh tadi.

Tim lapangan juga punya tempat kumpul yang dirahasiakan. Itulah ‘kantor’ kedua mereka. Tapi tak harus datang ketempat tersebut, tugas bisa lewat sms, tambahnya.

Untuk memperkuat pemahaman mereka tentang jaringan terorisme, anggota juga mempelajari buku-buku JI. Misalnya, Pedoman Umum Perjuangan Al Jamaah Al Islamiyah terbitan Majelis Qiyadah Markaziyah Al Jamaah Al Islamiyah. Dan sebagian anggota juga ahli berbahasa Arab.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mengakui kehebatan Densus 88 “Kalau tidak hebat, bukan khusus dong,” katanya, lantas tersenyum

Beliau juga mengatakan, identitas anggota Densus 88 yang berada dilapangan sangat dilindungi. “Memang harus dilindungi. Sebab, resikonya sangat besar. Selama masih ada aksi terorisme di Indonesia, Densus 88 akan tetap bekerja dengan pengabdian yang ikhlas dan tulus.” tutur mantan kapolda Sumatera Utara itu.
Judul: Mengenal Densus 88 Anti Teror (AT ) Polri; Ditulis oleh Hery IMG; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Memberi Tanggapan Atau Komentar, Kometar Spam akan Kami Hapus.